Kunjungan SD Hj.Isriati Semarang

Kunjungan SD Hj.Isriati Semarang

Para siswa-siswi kelas lima SD Hj. Isriati Baiturahman I Semarang melakukan kunjungan ke...

  • Kunjungan SD Hj.Isriati Semarang

    Kunjungan SD Hj.Isriati Semarang

    Monday, 31 October 2016 07:52

BERITA

Gangguan Pipa Kolektor Pecah di Tampingan Boja

Sehubungan dengan adanya pekerjaan perbaikan pipa kolektor diameter 500 mm yg pecah di  Tampingan Boja(9/6) jam 04.30, sehingga terjadi gangguan aliran di wilayah : Jatisari,Mijen,Pandana Merdeka,Permata Puri,Ngaliyan,Sadeng,Manyaran,Borobudur dan sekitarnya. saat ini sedang dalam proses pekerjaan. Manajemen PDAM mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan saat pekerjaan perbaikan berlangsung. Info bantuan air tangki 02476920999

Pipa Kolektor 600 m pecah di Karang Bolo Ungaran

Sehubungan dengan adanya pekerjaan perbaikan pipa kolektor PDAM yang pecah diameter 600 mm di Karang Bolo Ungaran(3/6) jam 12.00 WIB, sehingga terjadi gangguan aliran air di wilayah : Pudak Payung, Srondol, Tembalang, Setyabudi ,Bukit Sari, Gombel, Jatingaleh, Ksatrian, Karang Rejo, Karang Bendo, Jangli dan sekitarnya. Hingga saat ini, proses pekerjaan sedang berlangsung. Managemen PDAM mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan saat pekerjaan perbaikan berlangsung. Info bantuan air tangki 024 76920999.

Pasokan Air Baku Berkurang, PDAM berlakukan Giliran Aliran

 

PDAM Kota Semarang harus memberlakukan sistem giliran aliran bagi daerah-daerah yang mendapat aliran dari wilayah Kudu demi pemerataan distribusi air kr rumah pelanggan. Hal itu disebabkan adanya gangguan pasokan air baku di IPA Kudu. Giliran aliran tersebut, mulai diberlakukan sejak hari ini (2/5/2015).


Adapun jadwal alirannya sebagai berikut: 

1. Estimasi jam aliran 07.00-19.00 dialirkan untuk wilayah: sebelah utara Jl. Majapahit, Tlogosari, Genuk,Pedurungan, Gayam Sari, Pelabuhan, Tanah Mas dan sekitarnya


2. Estimasi untuk jam aliran 19.00-07.00 dialirkan ke wilayah: sebelah selatan Jl. Majapahit, Kedung Mundu, Ketileng, Sendangguwo, Rogojembangan, Sambiroto, Bukit Kencana Jaya, Kr.Anyar Gunung, Cinde, Jomblang, Mrican dan sekitarnya.


Managemen PDAM mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan saat gangguan ini berlangsung.info bantuan air tangki 024.76920999

Seminar Kaligarang dan Tata Kelola Air di Kota Semarang

 


Kali Garang Masih Mampukah?

Semarang, sebagai kota Metropolitan

Oleh Arief Khristanto, S.Hut ( Direktur Yayasan Bintari )

Bukan hanya menyimpan keriuhan namun juga menyimpan berbagai pembelajaran pengelolaan lingkungan perkotaan yang sebenarnya sangat layak untuk menjadi rasionalitas penetapan semarang  sebagai kota Edukasi. Sebut saja rob, banjir, land subsidence, abrasi pesisir, sanitasi hingga pengelolaan sumber daya air. Semarang memiliki itu semua. Kali ini kita akan tengok sejenak  Kali Garang. Di sadari atau tidak, Kali Garang merupakan salah satu monumen pengelolaan sumber daya air di Kota Semarang. Kali Garang, merupakan bagian dari tiga sungai utama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang yang terdiri dari sungai Garang, Sungai Kripik dan Sungai Kreo.

Intervensi pertama terhadap Kali Garang adalah terjadi pada masa Hindia Belanda yakni melalui pembangunan Bendung Simongan dan Banjir Kanal Barat pada tahun 1300an. Perkembangan pada masa ini, Kali Garang di fungsikan sebagai system pengendali banjir untuk Kota Semarang.

Perkembangan pada masa Pemerintahan Republik Indonesia, Kali Garang mendapatkan tambahan fungsi, yakni sebagai sumber bahan baku air minum untuk warga Kota Semarang yang ditandai dengan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kali Garang I pada tahun 1959.

Nampaknya rencana tersebut tidak bersinergi dengan pola pembangunan wilayah yang terjadi, baik di Kota Semarang maupun di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.

Pola pembangunan wilayah juga menurut Kali Garang sebagai saluran air buangan baik dari pemukiman maupun industri di sepanjang aliran sungai-sungai di DAS Garang. Tahun 1990 merupakan tonggak sejarah yang kembali membangunkan warga Semarang akan peran dan fungsi Kali Garang  sebagai pengendali banjir. Pada tahun tersebut, terjadi banjir yang luar biasa  hingga menyebabkan kerugian baik materi maupun korban jiwa.

Banjir bandang tersebut sebenarnya bukan kali pertama. Banjir bandang di sungai Garang tercatat berulang pada tahun 1963, 1990, 2000, 2002, dan 2008. Akan tetapi peristiwa 1990-lah yang paling membekas di ingatan warga Semarang saat ini.

Atas dasar kondisi tersebut, terwujudlah project normalisasi dan pembangunan Banjir Kanal Barat untuk mengantisipasi terjadinya banjir di masa depan. Project ini berjalan di mulai tahun 2010 hingga 2013 yang lalu. Desain pembangunan Banjir Kanal Barat amenity atau kenyamanan Kota Semarang. Tak pelak, sejumlah event baik besar maupun kecil telah di laksanakan di public area kawasan Banjir Kanal Barat.

Sejenak, warga Semarang bernafas lega atas kondisi Kali Garang yang di anggap lebih baik dengan tolak ukur kondisi Banjir Kanal Barat. Akan tetapi hal yang masih di lupakan adalah bahwa banjir Kanal Barat hanya sebagian kecil wajah hilir dari DAS Garang .

Lalu bagaimana dengan kondisi wilayah perhuluan?

Aliran sungai utama DAS Garang (Kali Garang, Kali Kripik, Kali Kreo) secara perencanaan tata ruang  di tiga wilayah telah di lindungi oleh kawasan perlindungan setempat berupa bantaran sungai. Hal ini berarti bahwa bantaran sungai hendaklah terlindungi oleh tutupan vegetasi dan terbebas dari bangunan dengan peruntukan selain pengaturan sumber daya air.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa efektif pola ruangan tersebut dalam melindungi kondisi sungai? Bila kita dapat meluangkan waktu untuk sejenak menyusuri ketiga sungai tersebut, maka Nampak bahwa sebenarnya pola ruang sebagai mana RT/RW tersebut masih terjaga.

Bantaran sungai dari tiga sungai dari tiga sungai utama tersebut masih terbebas dari peruntukan yang tidak seharusnya. Akan tetapi mengapa kondisi Kali Garang semakin menurun, khususnya terkait kualitas airnya? Terdapat beberapa factor yang menyebabkan hal tersebut terjadi,

Yaitu pertama, aliran anak – anak sungai DAS Garang masih mendapatkan beban pencemaran yang terus berlanjut dari aktifitas domestik, industri maupun pertanian.

Seluruh beban pencemaran ini pada akhirnya terakumulasi di sungai utama, yakni Sungai Garang, kedua belum teratasinya permasalahan erosi akibat terbukanya lahan sehingga tingkat sendimentasi di sungai belum teratasinya permasalahan erosi akibat terbukanya lahan sehingga tingkat sedimentasi di Sungai Garang terus meningkat tiap tahunnya.

Ketiga, normalisasi sungai yang dilakukan dengan membersihkan aliran sungai dari bebatuan kecil hingga besar mengurangi dayapulih Sungai Garang. Keempat, Kondisi hilir Sungai Garang yang cenderung landai juga menghambat proses aliran yang diperlukan dalam pemulihan kondisi sungai. Bahkan pada beberapa titik,pada musim kemarau kondisi Sungai Garang berubah menjadi anoksik atau memiliki kandungan oksigen yang sangat kecil.

Tantangan baru yang muncul kemudian adalah bagaimanakah air bersih bagi warga Semarang masih dapat terpenuhi dari Sungai Garang? Tercatat sebagaian besar (sekitar 60%) warga Kota Semarang saat ini memiliki ketergantungan pada PDAM sebagai sumber pemenuhan air bakunya.

Dalam lima tahun terakhir, semakin sering terjadi situasi dimana kondisi air yang mengalir ke konsumen tidak seperti yang diharapkan oleh konsumen, bahkan aliran air juga terhenti sama sekali. Akhir musim kemarau 2014, merupakan puncak kondisi air Sungai Garang yang sangat buruk dimana kandungan  oksigennya sangat kecil jauh di bawah baku mutu sumber air.

Sementara itu, puncak musim penghujan juga memberikan tantangan untuk mengolah air minum bagi PDAM dimana air Sungai Garang menjadi sangat keruh akibat sedimentasi yang sangat tinggi. Sehingga berpengaruh pada pelayanan distribusi air bersih yang dilaksanakan oleh PDAM kepada pelanggannya.

Kebutuhan masyarakat akan air bersih merupakan hal utama yang harus dijamin oleh pemerintah. Sungai Garang merupakan pemasok air baku terbesar bagi  PDAM Tirta Moedal Kota Semarang dalam menyediakan  air bersih bagi warga Kota Semarang.

Lalu dengan kondisi Sungai Garang yang semakin terdegradasi apakah masih mampu Sungai Garang untuk memenuhi kebutuhan warga Kota Semarang atas air bersih?Apakah semakin menurunnya kualitas air Sungai Garang belum cukup untuk menjadikan para pihak bergairah untuk merampungkan permasalahan ini sebagaimana merampungkan masalah banjir?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PDAM Tirta Moedal Kota Semarang

Kantor Pusat :
Jl. Kelud Raya No. 60 Semarang 50237, Indonesia
Telp. : +62 24 8315514 (Fax) +62 24 8314078
e-mail : pdam@pdamkotasmg.co.id

Copyright @ PDAM Tirta Moedal Kota Semarang 2014