Berita

08/10/2019   08:10 WIB      Humas      Berita

Sebanyak 33 PDAM Dapat Pendampingan dalam Mengelola Aset

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum mendampingi 33 perusahaan daerah air minum dalam pengelolaan aset. Manajemen aset yang baik diharapkan bisa mengerek kinerja PDAM.

Anggota BPPSPAM Unsur Profesi Popy Indrawati Janto mengatakan bahwa pihaknya telah membuat beberapa aplikasi yang dapat membantu dan mengelola data untuk meningkatkan kinerja perusahaan daerah air minum (PDAM) antara lain aplikasi manajemen aset, aplikasi pojok konsultasi, aplikasi gim interaktif, dan aplikasi penilaian kinerja.

 

"Yang saat ini diminati adalah aplikasi manajemen aset. Ada 33 PDAM yang sudah BPPSPAM fasilitasi, 14 PDAM pada 2018 dan 19 PDAM pada 2019,“ ujar Popy melalui siaran pers yang dikutip Bisnis, Senin (7/10/2019).

Dalam rangka memfasilitasi PDAM, BPPSPAM juga menggelar sosialisasi sistem informasi penyelenggaraan SPAM di Surabaya, akhir September 2019.

Poppy menyebutkan bahwa penggunaan teknologi kini menjadi isu penting dalam pengelolaan PDAM.

Era revolusi industri 4.0 menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber, pertukaran data informasi, dan internet of things (IoT). Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan bisa mengoptimalkan pelayanan PDAM.

 

Tidak seluruh PDAM di Indonesia sudah menerapkan pengelolaan aset dengan baik. BPPSPAM sebelumnya mencatat, di lapangan, banyak PDAM yang belum mengelola aset dengan baik sehingga menimbulkan kerugian. Misalnya, PDAM sulit mengoptimalkan aset karena identifikasi aset tidak jelas.

Secara umum, kinerja PDAM hingga 2018 masih belum seluruhnya sehat. Dari 380 PDAM di Indonesia, hanya 60 persen yang memiliki kinerja sehat, sedangkan 40 persen lainnya berkinerja kurang sehat dan sakit.

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/read/20191007/45/1156340/sebanyak-33-pdam-dapat-pendampingan-dalam-mengelola-aset



06/10/2019   10:00 WIB      Humas      Berita

Kota Semarang Suplai Listrik dari Sampah Untuk PLN

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, akhirnya dapat memaksimalkan pengolahan sampah di Kota Semarang untuk menjadi listrik bagi masyarakat di Jateng & DIY. Hal tersebut berhasil didorong melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) Landfill Gas TPA Jatibarang Kota Semarang oleh PLN, Jumat, 4 Oktober 2019.

Diharapkan, dengan adanya perjanjian tersebut maka listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah di Kota Semarang yang saat ini sebesar 0,8 megawatt, sudah dapat dimanfaatkan untuk menyuplai PLN unit induk distribusi Jateng & DIY. Usai penandatanganan, akan dimulai proses komisioning untuk suplai listrik dapat berjalan lancar.

Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi tersebut menegaskan, upaya serius kota yang dipimpinnya dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menjawab tantangan untuk mewujudkan Semarang sebagai Sustainable City (Kota Berkelanjutan). Disampaikan, Pemerintah Kota Semarang secara serius telah melakukan berbagai upaya pengolahan sampah sejak 2012.

Dengan jumlah total penduduk 1,7 juta orang, setiap harinya sebanyak 1.000-1.200 ton sampah dihasilkan. Oleh karena itu, Hendi meyakini jika tidak ada upaya serius dalam mengelola sampah, maka akan dihasilkan timbunan sampah yang semakin besar dan menjadikan permasalahan lingkungan.

Di awal 2012, Pemerintah Kota Semarang lebih dulu memulai upayanya dengan mendorong pengolahan sampah menjadi kompos dengan produksi 300-400 kubik per hari. “Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sistem landfill gas bantuan dari Kerajaan Denmark senilai 46 miliar rupiah, juga support dari Kementerian PUPR, Kemenkomaritim, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah,” kata Hendi.
 

"Dengan sistem tersebut, sembilan hektare timbunan sampah di TPA Jati Barang ditutup dengan geo membran, sehingga menghasilkan gas metana yang dapat dikonversikan menjadi listrik sebesar 0,8 megawatt," ujarnya.

Namun di sisi lain, Hendi menegaskan jika pekerjaan rumah Kota Semarang dalam pengelolaan sampah masih banyak. Pasalnya, Kota Semarang saat ini juga sedang dalam tahap penyiapan PLTSa dengan kapasitas yang lebih besar melalui skema pembiayaan KPBU senilai Rp 1,4 triliun, yang ditargetkan beroperasi pada 2022. “PR-nya belum selesai. Ke depan, masih harus dilakukan kewajiban untuk mengawal dan memastikan suplai ini lancar. Pemerintah kota pun masih akan terus mengolah 800-900 sisa sampah yang belum terolah dengan pola PLTSa, menggunakan insenerator dengan produksi 15-22 megawatt," kata Hendi. (*)

Sumber : https://nasional.tempo.co/read/1256201/kota-semarang-suplai-listrik-dari-sampah-untuk-pln



SEMARANG (Asatu.id) – Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, terkait dengan Jabatan Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Moedal yang saat ini kosong, Pemkot telah menyerahkan sembilan nama calon Direktur PDAM Tirta Moedal kepada Komisi B DPRD Kota Semarang.

“Sudah hampir dua tahun Pemkot menyerahkan sembilan nama ke DPRD,” katanya, Senin (17/5)

Lebih lanjut, Hendi sapaan akrab Walikota itu mengungkapkan, sembilan nama tersebut seharusnya segera dilakukan proses seleksi oleh panitia seleksi (pansel), fit and proper test oleh Komisi B DPRD Kota Semarang. Untuk kemudian ditetapkan  sebagai tiga direktur definitif yakni direktur utama (dirut), direktur umum (dirum) dan direktur teknik (dirtek).

“PDAM hari ini direksinya masih Pjs, karena proses rekrutmennya sampai hari ini masih menunggu persetujuan di DPRD Kota Semarang. Tapi, di tingkat Pansel sebetulnya sudah siap. Kami sudah ada tiga kali tiga, sembilan nama, posisi sudah ada di DPRD,” ungkapnya.

Hendi berharap, sembilan nama yang telah disetorkan tersebut segera dipilih tiga direktur definitif untuk mengisi kekosongan yang ada.

Di sisi lain, meski saat ini PDAM Tirta Moedal dijabat oeh Pjs, Hendi menjamin pelayanan kepada masyarakat tetap dilakukan secara baik. Terlebih, saat ini mulai memasuki musim kemarau, pihaknya berusaha menjaga supply air bersih dan pendistribusiannya kepada masyarakat.

“Saya yakinkan pada Pjs, teman-teman direksi bisa tetep melayani masyarakat dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, Pjs Dirut Tirta Moedal, Iswar Aminudin mengatakan, pihaknya tetap bekerja secara maksimal meskipun saat ini memegang dua jabatan yakni sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang dan Pjs Dirut PDAM Tirta Moedal.

“Ada dua instansi yang kami pegang, tapi kami tetap fokus dan memberikan pelayanan yang baik,” imbuhnya.

Sebelumnya di sampaikan, jabatan Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Moedal sudah lama kosong sejak Dirut sebelumnya berhenti dari tugasnya pada awal Desember 2017 lalu.

Hingga kini, perusahaan daerah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tersebut dipegang oleh Penjabat Sementara (Pjs). Bahkan, telah mengalami pergantian Pjs. Semula Pjs dijabat oleh M Farchan kini telah digantikan oleh Iswar Aminudin. (is)



23/09/2019   12:00 WIB      Developer      Berita

Debit Air PDAM Temanggung Anjlok 30%

Debit air Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Agung Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada musim kemarau tahun 2019 ini turun hingga 30%. Demikian diungkapkan Kabag Tektik PDAM Tirta Agung, Arif Cahyono.

Solopos.com, TEMANGGUNG — Debit air Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Agung Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada musim kemarau tahun 2019 ini turun hingga 30%.

Kabag Tektik PDAM Tirta Agung, Arif Cahyono, mengatakan pasokan air PDAM Tirto Agung berasal dari 36 sumber mata air. Saat ini, debit air turun rata-rata 30% sehingga pasokan air ke pelanggan sedikit terganggu.

Beberapa sumber mata air debit airnya turun lebih dari 30%, antara lain Tuk Multo pada kondisi normal debit air mencapai 50 liter/detik, kini turun menjadi 30 liter/detik, dan sumber air Jumprit biasanya 70 liter/detik menjadi 40-45 liter/detik. Guna mengantisipasi turunnya debit air tersebut layanan ke pelanggan di beberapa daerah terpaksa penyalurannya digilir atau dijadwal.

"Kalau daerah yang parah sekali kita distribusi air menggunakan tangki," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (5/9/2019).

Ia menuturkan daerah yang pasokannya digilir karena pasokan airnya berkurang, antara lain Kandangan, sebagian Parakan, dan Kedu. Rencana untuk daerah Kedu tahun 2019 ini dianggarkan untuk penambahan pasokan air yang diambilkan dari sumber mata air di dekat Sungai Galeh di Parakan.

Dibandingkan tahun lalu penyusutan air di sumber mata air tahun ini hampir sama, namun berbekal pengalaman tahun lalu maka dibuat tandon-tandon air di beberapa wilayah. Ia menyebutkan pelanggan PDAM Tirto Agung sekarang sekitar 42.000 dari sembilan kecamatan.

"Daerah seperti Bejen, Tretep, dan Wonoboyo tidak terjangkau layanan PDAM karena di sana tidak ada sumber air besar. Kita bekerja sama dengan Bappeda memanfaatkan sumber air-sumber air kecil dengan pamsimas," katanya.



Info Pelanggan

~indeks

  • Info Tagihan
  • Info loket
  • Call Center 024-76920999
  • WhatsApp 0813-4850-0060
  • Aplikasi Android