Berita

17/12/2019   02:50 WIB      Humas      Berita

Kacau, 40% PDAM Rugi karena Tarif Air Terlalu Murah

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyoroti masih banyaknya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengalami kerugian. Pasalnya, 40% PDAM tarifnya masih di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga mengatakan seharusnya tarif yang ada saat ini harus mencapai full cost recovery. Karena berdasarkan ‎Permendagri Nomor 71 Tahun 2016, tarif PDAM harus memenuhi biaya operasional.

"Nah sekarang itu lebih dari 40%, mereka tarifnya tidak memenuhi itu, tidak memenuhi biaya operasional," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (16/12/2019).

 

Danis menambahkan, berdasarkan hasil audit BPKP di tahun ini, sebanyak 224 PDAM atau 58,95% berkinerja sehat. Sementara 102 PDAM atau 26,84% berkinerja kurang sehat dan 54 PDAM atau 14,21% berkinerja sakit.

"Pada intinya banyak merugi karena biaya operasionalnya tidak tertutupi, setiap PDAM yang ini HPP-nya berbeda menyesuaikan dengan kondisi setempat, bagaimana memperoleh air," katanya.

Menurut Danis, memang tarif masing-masing PDAM ditentukan oleh kepala daerah. Hanya saja, jika memang kepala daerah menginginkan agar tarif PDAM lebih rendah dibanding HPP, semestinya pemerintah daerah memberikan subsidi.

 

Danis berpendapat apabila PDAM dibiarkan merugi lantaran tarif terlalu rendah, dikhawatirkan BUMD itu tak bisa bertahan. Oleh karenanya, tarif PDAM diminta rasional agar pelayanan kepada masyarakat tetap optimal.

"Bagaimana bisa memelihara kalau biaya operasional saja tidak bisa memenuhi itu," kata Danis.

sumber : https://economy.okezone.com/read/2019/12/16/320/2142520/kacau-40-pdam-rugi-karena-tarif-air-terlalu-murah

 



16/12/2019   09:45 WIB      Humas      Berita

Pemkot Semarang Terima Anugrah Gatra

SemarangGatra.com - Pemerintah Kota Semarang mendapatkan Anugerah GATRA, dalam kategori Infrastruktur dengan daerah yang paling masif membangun dengan skema KPBU.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, penghargaan yang didapat kali ini sebagai bukti komitmen Pemkot Semarang memberikan yamg terbaik bagi masyarakatnya.

"Paling penting buat saya adalah ketika kita mampu menyelesaikan masalah yang ada di tengah tengah masyarakat. Masyarakat butuh air bersih kita bangun SPAM Semarang Barat dan lain sebagainya," ujar Hendi sapaan akrabnya, Rabu (4/12).

Menurut Hendi, pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dalam membangun infrastruktur di Kota Semarang.

"Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri untuk memajukan kota, harus ada peran yang sama dari penduduk, pengusaha atau pihak swasta. Untuk itu, kami menggunakan Skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha)," imbuh Hendi.

Untuk diketahui, saat ini Pemerintah Kota Semarang bersama PDAM Tirta Moedal dan PT Air Semarang Barat (ASB) tengah membangun proyek SPAM Semarang Barat dengan nilai investasi Rp1.2 Trilun, yang akan menjangkau 60.000 sambungan rumah, di 3 kecamatan  yakni Tugu, Semarang  Barat, dan Ngaliyan.


Reporter: Intan Alliva Khansa
Editor: Budi Arista

Sumber : 
https://www.gatra.com/detail/news/460266/milenial/pemkot-semarang-terima-anugrah-gatra



16/12/2019   09:35 WIB      Humas      Berita

Cegah Stunting, Wapres Minta Perbaikan Kelola Air Bersih

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin meninjau pengelolaan air bersih dan kesehatan di sela kunjungannya ke Kota Semarang. Kiai Ma'ruf didampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengunjungi Instalasi Pengelolaan Air Gajah Mungkur dan meninjau proses pengelolaan air PDAM Tirta Moedal, Kota Semarang, Jumat (13/12).

Kiai Ma'ruf ingin memastikan kondisi air bersih dan sanitasi di Kota Semarang. Sebab, menurutnya, upaya penurunan stunting (anak kerdil) tidak optimal jika tanpa dukungan suplai air bersih yang memadai.

Apalagi, prevalensi balita stunting di Jawa Tengah masih berada di angka 34,3 persen, di atas rata-rata prevalensi nasional yaitu 30,8 persen.

"Kita berusahaa memperbaiki, ada aspek yang sifatnya kesehatan, ada yang sifatnya itu nonkesehatan, itu air bersih kemudian sanitasi nah ini yang harus diperbaiki," ujar Kiai Ma'ruf di Kota Semarang, Jumat (13/12).

Menurut Kiai Ma'ruf selain pencegahan dari sisi kesehatan, gizi dan penyuluhan sebelum nikah, penting juga memastikan lingkungan agar bayi tidak terkena stunting. Lingkungan tersebut harus memastikan air dan sanitasi bersih.

"Karena itu dua hal ini jadi sumber (penting), bahkan perannya bisa sampai 70 persen, saya kira itu," ujarnya.

Selain itu juga Kiai Ma'ruf besama Ibu Hj Wury Ma'ruf Amin mendatangi Rumah Pelayanan Gizi (PELANGI), fasilitas yang dibangun Pemkot Semarang untuk memaksimalkan penanganan bagi balita dengan masalah gizi termasuk stunting. Menurutnya, penanganan stunting dilakukan secara kuratif dan rehabilitatif selama 6 bulan.

Sebelumnya, stunting merupakan salah satu masalah yang menjadi prioritas pemerintah. Prevelansi stunting saat ini berada di kisaran 30,8 persen, turun dari 37,2 persen pada 2013. Namun angka tersebut masih jauh dari target RPJMN 2024 yang ditetapkan sebesar 19 persen. 

Wapres pun beberapa kali menegaskan pemerintah sedang berupaya melakukan penurunan stunting secara terintegrasi yang difokuskan 260 kabupaten/kota dan 1.000 desa di Indonesia. Sasaran intervensi stunting pada tahun 2020 juga akan ditambah menjadi 390 kabupaten/kota dan 514 kabupaten/kota di tahun 2021.

Namun, untuk mencapai target prevalensi nasional tersebut. Kiai Ma'ruf menilai perlu kerjasama antar pemerintah pusat, daerah, desa, dan lembaga terkait lain. Termasuk lembaga swasta, organisasi non pemerintah serta organisasi masyarakat.



14/11/2019   02:00 WIB      Humas      Berita

Air Waduk Jatibarang Akan Dimanfaatkan sebagai Air Baku PDAM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Hujan yang mengguyur Kota Semarang beberapa kali belum mampu meningkatkan debit air permukaan Waduk Jatibarang, Kota Semarang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Provinsi Jateng, Eko Yunianto, mengatakan, air di waduk tersebut akan dimanfaatkan sebagai air baku PDAM.

"Masih normal. Kemarau juga tak membuat debit air di Jatibarang menyusut," kata Eko di Semarang, Rabu (13/11).

Padahal, menurut Eko, air di waduk belum dimanfaatkan untuk memenuhi air akibat kemarau. Hanya saja, mendekati musim hujan, air yang ditampung itu akan digunakan sebagai kebutuhan air baku.

"Rencanannya, nanti sebannyak 1.050 liter per detik akan digunakan untuk SPAM (sistem penyediaan air minum) Semarang Barat," jelasnya.

Saat ini, Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Tirta Utama tengah membangun infrastruktur atau fasilitas inti untuk pengairan air baku dari Waduk Jatibarang tersebut. Nantinya, saluran dari PDAB akan disambungkan ke pipa SPAM PDAM Kota Semarang dan selanjutnya disalurkan ke rumah pelanggan.

"Waduk seperti Jatibarang itu kini tidak hanya untuk penyedia air saat kemarau atau pun menampung air saat musim hujan sehingga mencegah banjir. Namun, berkembang juga untuk wisata, multipurpose (bertujuan banyak)," jelasnya. (mam)



Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Air Waduk Jatibarang Akan Dimanfaatkan sebagai Air Baku PDAM, https://jateng.tribunnews.com/2019/11/14/air-waduk-jatibarang-akan-dimanfaatkan-sebagai-air-baku-pdam.
Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: Catur waskito Edy



 



Info Pelanggan

~indeks

  • Info Tagihan
  • Info loket
  • Call Center 024-76920999
  • WhatsApp 0811-26800-60
  • Aplikasi Android